Jalan Tarbiyah, Tanpa Kusadari Diriku Menjadi Seorang Akhwat

Melewati hari kedua untuk daurah ini
Esok adalah hari terakhir..

Gemeruh pemateri menyentakku dgn ucapannya bahwa inilah daurah terakhir dimarhalah ini..
haru dan kenangan takkan terlupakan dalam majelis yang sukses melelahkan semua persendian dan begitu melelahkan, namun tergantikan dengan semangat pemateri yang begitu menggemuruh seisi ruangan 4x 12 itu.


Sungguh sangat kurindukan majelis ini, majelis yang membangunkanku dari tidurku yang begitu panjang dan lelap..

Mengunggah dan membangkitkan kembali semangat yang begitu lama larut dalam selimut panjang.
Majelis yang kembali menggerogoti hatiku yang semakin dahaga,

seakan menjawab semua pertanyaan dalam serumpun kebingunganku selama ini... yah sangat luar biasa

hanya itu yg mampu tersungging dibibirku dengan semangat meninggi awan.hari ini ada sebuah PR menuliskan kisah perjalanan mengenal hidayah dan disinilah saya memulai menggerakkan spasi tulisanku dan mulai menerawang Atas sebuah pertemuan yang tak pernah tersadari
Bertemu dengan mereka yang orang kenal dengan istilah ‘Akhwat’.Kisah ini bermula dan tak pernah kubayangkan dari istilah yang sering kudengar dari mulut mereka, tanpa kusadari kini istilah itupun melekat dalam diriku menjadi seorang akhwat.

Kuliah kemakassar ku awali ditahun 2005, sebuah perjalanan yang begitu heroik tak terduga dan tak pernah kucita-citakan dalam hidupku menjadi seorang akhwat, karena tujuan utamaku adalah menuntut ilmu versi dunia (pent) namun dari perjalanan inilah muara itu membawaku mengenal menuntut ilmu yang namanya ilmu syar’i.

Seiring berjalannya waktu Kemilau kampus membawa dan seolah menghirup mereka yang berada dalam kerumunannya sebuah tempat yang berkilau karena kejinggaan almamaternya yang tampak silau (Universitas Negeri Makassar), menyiratkan makna: Membangun semangat yang tak pernah hilang. Memberikan kecemerlangannya melalui wadah yang sebenarnya jernih dan sebening cita yang tertanam disana. Olehnya pula, ada  banyak generasi intelek yang telah terlahir dan untuk terus membangun generasi yang berintelek juga, itulah harapku tak hanya intelek dari ilmu dunia namun bisa mengantarkan pada negeri yang nantinya kekal.

Tapi kisah ini tidak akan panjang membahas kemilau kampus itu. Hanya sebuah garis yang memiliki benang merah untuk ku tuliskan dengan pena kecilku.

Menikmati kuliah dan menyaksikan dosen yang hilir mudik keluar dan masuk kelas ditiap harinya ada rasa penat yang kian menyapa, namun ada yang aneh dari penampakan beberapa wanita yang terlihat jilbabnya begitu panjang lengkap dengan kaki yang tertutup dengan kaos begitu rapi, itulah kesan pertamaku terhadap mereka.

Yang tak pernah bosan pada setiap hari jum’atnya mengajak kami para MABA untuk mengikuti acara mereka, waktu itu aku tau dari teman sebangkuku bernama Selvy bahwa nama kegiatan mereka KAMAT (Kajian Jum’at) namun sering aku lewatkan momen itu yang menututku itu kurang penting karena tidak akan nyambung dengan nilai mata kuliah nantinya. Tapi ada getaran dan tanya dalam hatiku ada apa dengan mereka yang tak pernah bosan mengajak dan mengajak hingga sekali waktu aku mengikuti acara mereka.

Dilain waktupun, disetiap kesempatan mereka (Akhwat, pent) mengajak kami untuk kesekret tempat mereka selalu berkumpul. Hingga dihari sabtu kami sekelas diajak untuk mengikuti belajar bersama yang namanya ‘SIGMA’ waktu itu dengan mengiyakan akupun mengikuti kegiatan itu selama 2 hari, terasa tak ada yang berubah yah sekedar agar waktu tak terbuang percuma yakinku, hingga kami selalu diajak untuk belajar disetiap pekannya dengan menentukan waktu, tempat dan harinya. Dari sinilah awal guratan ukhuwah yang membahana dan berjuta makna akan membawaku dalam dunia akhwat dan tarbiyah.

Kini hanya tentang waktu ia tak akan pernah memulangkanmu kepermulaan detik menit yang menderit. Awal mengenal tarbiyah barulah tersadar setelah 3 bulan rutin mengikuti pertemuan itu, sekitar 10 orang dari halaqah kami yah itulah penamaan dari kelompok yang sampai kini ku jalani, dalam kelompok itu kami belajar, memulai dengan mengenal tauhid, ibadah, aqidah dan sejumlah pelajaran lain yang berpendar dalam nikmatnya untaian rajut tarbiyah... disanalah saya mengenal makna saudari seiman, yang begitu membuatku kagum melebihi hubungan darah.

“Lembayung senja sungguh indah warna merahnya adalah MERAH SAGA saat menatapnya adalah sebuah tanda senjakan tiba Gelap terasa, purnama bersua jua Dan malaikat senja tiba Menggantikan malaikat di pagi hari yang telah menjaga. Semoga hari ini, ketika senja tiba Diiringi muhasabah dan do'a. Agar diberkahinya diri, hari ini dan hari-hari yang telah dilalui, dan sekuat itulah kemilau hidayah  yang membuatku selalu rindu untuk menggunakan jilbab panjang, hijab syar’i yang kini telah kugunakan, perjalanan ini mengubah dan sahabatku satunya lagi.

Kembali mengenang  embun yang  masih tersisa Dari derasnya air yang kini mulai mengering hingga menyisakan beberapa  yang  tetap menjalani nikmatnya menjalani tarbiyah, tak selalu indah perjalanan ini senja pun menjadi saksi dikemilau almamater kampus yang tak secerah warnanya, dan sepasti sunnatullah akan selalu ada penyaringan, ada yang terjatuh dan ada yang bertahan istiqomah. Hanya tinggal berempat kami dalam halaqah perjuangan ini, teman-teman kami berguguran satu persatu dengan kesibukan dan banyaknya praktek disemester akhir, tarbiyahpun terus kami jalani, terasa begitu kering dan haus kami disetiap perjalanan tarbiyah ini.

Namun, Keterlelapan dunia tak menyurutkanku untuk mengikuti mereka yang gugur, ada keyakinan dalam hatiku bahwa dunia takkan selalu bersama kita, ada tujuan, ada muara akhir dari persinggahan ini, tarbiyah itu kian mengkristalkan keyakinanku dan sahabatku yang tinggal kami berdua menggenggam perjuangan untuk bertahan termasuk dalam kepengurusan. Bentukan tarbiyah dan kepengurusan dikampus membuat hati kami teguh dan yakin disetiap perjuangan akan ada pertolongan Allah.

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS Muhammad: 7)

Itulah alasan  yang selalu menguatkanku tetap bertahan dan teguh diatas manhaj ini “Dakwah dan perjuangan” wasilah inilah yang nantinya akan mengantarkan pada kemenangan yang Allah janjikan namun butuh waktu dan keyakinan, insya Allah.

Seperti melihat hamparan milyaran galaksi di atas sana aku takjub
Luruh dalam ke-Mahaan

Dan tergugu dalam kerapuhanku untuk selalu bangkit,
iya.. disanalah awal ukhuwah itu...

Dakwah dan tarbiyah begitu kuat membawaku dalam sebuah kalimat yakin Hingga....

Dalam kehambaanku aku ingin mengajakmu, Mengajak siapapun untuk berlari mendekat menuju jalan yang mulia ini Hingga akupun merajut harapan dan mengatakan kepadamu

"Kau harus jadi bintang yang berpendar" Dengan kuas yang ku ulurkan kepadaku Sambil menyapa, kugoreskan warna warni yang ternyata begitu menentramkan Dihatiku dan dihatimu

Dalam cawan putih  Kubawakan syair rindu untuk langit

Dan kau bantu aku untuk menuangkannya di bumi

Agar menjadi senyum dan tawa di wajah -orang yang memburu senyuman

Di wajah mereka yang kelelahan Dan dalam setiap keletihan

Ada asa yang selaksa

Ada rindu yang tak terperi

Dalam sunyi yang bersemayam dalam rongga di hatimu

Agar kerlip kerlip kecil itu

Kelak menggapai angkasa raya

Dan izinkan aku

Dengan warna-warni di pelangiku

Memendarkan senyum di wajahmu

Dan kurajut kata mari kita berjuang dijalan Dakwah dan perjuangan ini

Dari setitik kisah dalam perjalanan Tarbiyah

(Oleh Muthmainnah Alfaruq)

pageads
Tag : liqo