Bagaimana Sikap Kita Jika Islam, Allah SWT dan Rasul Kita Dihina?

Tanya:
Assalamu’alaikum.

Pak Ustad, Saya mau bertanya, sekarang di media elektronik khususnya facebook, twitter, atau blog, ada yg menghina Islam, Allah SWT, dan Rasul SAW. Apa yang harus kita lakukan sebagai umat muslim atas perlakuan mereka tersebut? Karena sebagian besar saya melihat orang-orang meresponnya dengan balas memaki orang tersebut.

Terima kasih, wassalamu’alaikum

[Fitri via surel]


Jawab:
Wa’alaikumussalam wr. wb.

Sejak awal kedatangannya, Islam sudah banyak dihina orang. Rasul pun demikian. Bahkan bukan hanya Nabi Muhammad saw., nabi-nabi sebelumnya pun banyak sekali yang mengalami penghinaan dan penolakan dari kaumnya. Tidak sedikit pula di antara mereka yang dibunuh oleh kaumnya sendiri. Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya. Demikian firman Allah dalam QS. ash-Shaff (61): 8.

Di satu sisi, harus kita akui bahwa penghinaan terhadap Islam, Rasulullah saw., maupun terhadap Allah yang terjadi belakangan ini, terutama di dunia maya, tidak jarang disebabkan secara tidak langsung oleh perilaku umat Islam sendiri. Katakan, misalnya, mereka yang meledakkan bom di hotel-hotel, tempat-tempat wisata, atau tempat-tempat ibadah dengan mengatasnamakan jihad. Katakan pula, misalnya lagi, mereka yang hidup kotor, tidak disiplin, dan malas bekerja, padahal Islam mengajarkan kebersihan, hidup teratur, dan etos kerja yang tinggi. Atau mereka yang ber-KTP Islam tetapi suka melakukan korupsi atau memakan harta orang lain secara tidak benar. Dan masih banyak lagi contoh lain. Di sisi ini, adalah tugas umat untuk terus belajar menyikapi kenyataan kekinian dengan arif, bijak, damai, toleran, dan keteguhan hati.

Di sisi lain, penghinaan itu juga tidak jarang disebabkan oleh ketidaktahuan pihak-pihak yang melancarkannya. Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata, Manusia adalah musuh bagi apa yang mereka tidak tahu.(An-nas a’da’u ma jahili). Karena tidak tahu, maka mereka lalu memusuhi Islam. Di sini, kita perlu terus memberikan informasi yang benar dan mencerahkan mengenai Islam kepada mereka.

Di sisi ketiga, penghinaan itu juga terkadang dilakukan dengan motif kebencian. Mereka tidak ingin agama Allah âbukan hanya Islam, melainkan juga ajaran-ajaran yang diturunkan Allah sebelum Islam tegak di muka bumi. Mereka ingin merekalah yang mengatur dunia ini, bukan agama. Mereka itulah yang diisyaratkan oleh ayat yang saya kutip di atas.

Terhadap mereka yang menghina agama Allah, atau mereka yang menyembah selain Allah, kita tidak perlu membalasnya dengan balik menghina mereka atau menghina tuhan-tuhan mereka. Dalam al-Qur’an Allah berfirman: Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan (Q.S. al-An’am [6]: 108). Dalam realitas sejarah, ketika dimaki dan dihina oleh orang-orang Thaif, Rasulullah saw. justru berdoa memohon kepada Allah untuk menunjukkan mereka ke jalan yang benar. Dan benar, dari anak-anak keturunan orang-orang Thaif itu kelak justru lahir orang-orang yang membela agama Islam.

Demikian, wallahu a’lam.
[Muhammad Arifin – Dewan Pakar Pusat Studi al-Qur’an]

(Alifmagz)